CERITA INTI MUDA JAWA BARAT
KLIK TOMBOL ⌵ UNTUK MEMBACA CERITA
KLIK TOMBOL ⌵ UNTUK MEMBACA CERITA
Webinar Pra-Simposium ini diselenggarakan sebagai ruang berbagi dan refleksi awal sebelum partisipasi tim peneliti dalam Simposium Internasional di Villanova University (12–13 Februari). Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan pengetahuan kepada komunitas, sekaligus memperkuat keterlibatan bermakna populasi kunci muda dalam proses produksi pengetahuan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim kolaboratif yang terdiri dari Raka (CRCS), Aizhar (UPI & Jakatarub), Riki Jakaria (Mahasiswa Psikologi INABA & Koordinator Inti Muda Jawa Barat), serta Abdul Karim (Staf Shelter Inti Muda Jawa Barat). Fokus utama penelitian adalah bagaimana kolonialitas yang masih hidup dalam kebijakan, norma sosial, dan praktik institusional terus memproduksi stigma, diskriminasi, dan kekerasan terhadap populasi kunci muda serta orang muda yang hidup dengan HIV (ODHIV muda) di Indonesia.
Dalam konteks Jawa Barat yang kerap ditandai oleh pendekatan kebijakan konservatif dan moralistik, Inti Muda Jawa Barat hadir sebagai organisasi berbasis komunitas yang dipimpin oleh dan untuk populasi kunci muda. Organisasi ini menyediakan ruang aman, dukungan sebaya, layanan kesehatan berbasis kebutuhan komunitas, serta advokasi untuk keadilan sosial dan kesehatan.
Salah satu keunikan penelitian ini adalah penggunaan metodologi gosip sebagai pendekatan dekolonial. Metode ini menempatkan relasi, kepercayaan, dan pengalaman hidup komunitas sebagai sumber pengetahuan yang sah. Melalui percakapan informal yang penuh humor dan empati, gosip menjadi ruang collective care sekaligus alat perlawanan terhadap praktik penelitian yang eksploitatif dan hierarkis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolonialitas berdampak nyata pada kesehatan mental populasi kunci muda, mulai dari rasa malu, kecemasan, hingga depresi, bahkan berujung pada terputusnya pengobatan HIV. Di sisi lain, praktik komunitas yang dijalankan Inti Muda Jawa Barat seperti dukungan sebaya, Psychological First Aid (Listening Buddy), penyediaan shelter ramah populasi kunci, serta advokasi kebijakan menjadi bentuk aksi dekolonial yang memulihkan martabat dan agensi orang muda.
Webinar ini menegaskan bahwa kerja-kerja komunitas bukan sekadar aktivitas pendampingan, melainkan praktik pengetahuan dan perlawanan yang berakar pada kasih, solidaritas, dan keberanian. Melalui penelitian dan aksi bersama, Inti Muda Jawa Barat terus berupaya membangun ekosistem yang lebih adil, inklusif, dan aman bagi populasi kunci muda dan ODHIV muda.
Ke depannya, kolaborasi lintas komunitas, akademisi, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk memastikan bahwa suara orang muda tidak hanya didengar, tetapi juga diakui sebagai bagian penting dari perubahan sosial.
Kelurahan Cibangkong menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) pada Kamis, 30 Januari 2026, bertempat di Kantor Kelurahan Cibangkong. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Infrastruktur, Sosial, dan Ekonomi Berbasis Kewilayahan untuk Mendorong Pengembangan Koridor Wisata Kota yang Inklusif dan Berdaya Saing”.
MUSRENBANG dimulai pukul 13.00 WIB dan berlangsung dengan tertib serta lancar. Kegiatan ini menjadi ruang partisipatif bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses perencanaan pembangunan di tingkat kelurahan. Dalam sambutannya, perwakilan Kelurahan Cibangkong menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam perencanaan pembangunan berbasis kewilayahan. Partisipasi warga dinilai sebagai kunci untuk memastikan program pembangunan yang dirumuskan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi wilayah.
Pada sesi pemaparan materi, dijelaskan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan mengacu pada ketentuan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 serta regulasi terkait Program Pembangunan Skala Nasional (PPSN). Mekanisme perencanaan pembangunan disusun secara berjenjang, dimulai dari rembug warga di tingkat paling bawah hingga ke tingkat nasional.
Selain itu, dipaparkan pula potensi yang dimiliki Kelurahan Cibangkong, antara lain pengolahan sampah berbasis masyarakat serta program pengecekan dan pelayanan kesehatan. Adapun skala prioritas pembangunan di tingkat kecamatan meliputi:
• Penerangan Jalan Lingkungan (PJL)
• Pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat
• Program padat karya
• Program Kesehatan
Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung secara interaktif. Peserta aktif menyampaikan berbagaimasukan, usulan, serta klarifikasi terkait prioritas pembangunan dan pengembangan potensi wilayah Kelurahan Cibangkong. Kegiatan MUSRENBANG Kelurahan Cibangkong ditutup setelah seluruh agenda terlaksana dengan baik. Diharapkan hasil musyawarah ini dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Workshop Regular Monitoring on Stigma and Discrimination Related to HIV Response at District Level diselenggarakan oleh PKBI Kota Bandung dan BAC (Bandung AIDS Coallition) sebagai upaya memperkuat respons HIV yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia.
Kegiatan ini membahas situasi terkini HIV serta tantangan stigma dan diskriminasi yang masih dialami oleh Orang dengan HIV (ODHIV) dan Populasi Kunci. Dalam diskusi, terungkap masih adanya pelanggaran hak ODHIV, khususnya dalam akses layanan kesehatan dan pekerjaan. Peserta juga menyoroti meningkatnya kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) pada komunitas Transgender dan Laki-laki yang berhubungan Seks dengan Laki-laki (LSL), serta belum meratanya ketersediaan dan harga obat IMS. Isu menurunnya penggunaan kondom akibat persepsi aman karena PrEP turut menjadi perhatian.
Workshop ini menekankan pentingnya penguatan sistem monitoring logistik HIV yang dikawal bersama, serta perlunya jejaring lintas sektor, termasuk dengan kepolisian, untuk mendorong program yang lebih inklusif bagi komunitas.
Sebagai hasil kegiatan, peserta menyepakati sejumlah rencana tindak lanjut prioritas, di antaranya penerapan alur Restorative Justice bagi Pengguna NAPZA di Kota Bandung, penguatan monitoring logistik HIV bersama Dinas Kesehatan setiap tiga bulan, dorongan penghapusan pasal diskriminatif dalam RAPERDA, serta penguatan kapasitas petugas lapangan dan komunitas dalam penanganan kasus (GBV/IPV).
Kegiatan edukasi HIV dalam rangkaian Edu Outing Class di SMP PGRI 6 Bandung ini merupakan hasil kolaborasi antara Inti Muda Jawa Barat dengan SMP PGRI 6 Bandung. Kegiatan berjalan dengan baik, interaktif, dan memberikan manfaat yang cukup baik bagi peserta.
Melalui kolaborasi ini, siswa memperoleh bekal pengetahuan dasar mengenai kesehatan, diantaranya pentingnya pencegahan dan penanggulangan HIV, serta pemahaman tentang perilaku hidup sehat bagi remaja.
Selain itu, kegiatan ini juga menanamkan nilai empati, sikap saling menghargai, dan tanggung jawab sosial, sehingga diharapkan dapat membentuk lingkungan sekolah yang lebih inklusif. membentuk siswa yang peduli terhadap kesehatan khususnya pada remaja dan Populasi Kunci Muda.